Peringatan dua tahun di Indonesia

Pada hari pertama tahun 2012 aku terbangun oleh kejutan: garis pantai Jawa Selatan yang memusingkan dalam keindahannya. Dalam gelap gulita malam sebelumnya, kami tergelincir, mengutuk dan berteriak melewati lumpur ke atas bukit. Di sana ada rumah dibangun oleh satu warga Australia (di belakang pintu kamar kecil ada kalendar oleh Leunig, kartunis Australia yang terkenal). Dalam rombongan kami ada empat orang Australia, warga orang Jerman, warga Slovakia, warga Afrika Selatan, dan warga Irlandia–ia sudah cukup mabuk. Ketika kami tiba di rumah di atas bukit, kotor dengan lumpur, kami langsung melompat ke dalam kolam renang.

Tetapi, kami tidak tahu bahwa kolam renang itu sebenarnya kolam ikan. Ketika kami bangun esok pagi, ada pemandangan garis pantai yang mengejutkan, dan juga ada kejutan karena beberapa ikan yang mengambang terbalik. Aku merasa sangat bersalah, tapi Daryl, yang orang Australia, mengatakan bahwa istrinya akan masak ikan-ikan itu di warungnya, di mana kami minum Bintang dan ciu malam sebelumnya, sebelum memulai perjalanan yang sulit sekali ke puncak bukit itu. Karena kami datang ketika sudah sangat larut, dan juga karena aku tidak pernah ke pantai di Jawa, aku tidak tahu apa yang ternyata dibawa oleh fajar: sala satu pemandangan yang paling mengesankan aku pernah lihat. Pengalaman itu, bersama mantan pacarku Nicholas Combe dan rombongannya yang riang dan cukup gila, tetaplah Best New Year’s Ever, tetapi itu hanya permulaan.

 

IMG_1152 (3)

Pantai Kukup

IMG_1189

Rumah di atas bukit

Moses, yang orang Jerman, mengambil ikan mati

Moses, yang orang Jerman, mengambil ikan mati

Kegairahan orang Indonesia untuk pergi ke pantai pada hari libur adalah hal favoritku selama tinggal di Sanur. Pada akhir minggu dan hari raya dari matahari terbit warga berkerumun dalam ribuan, jadi pantai Sanur kelihatan mirip lukisan oleh Ken Done (pelukis orang Australia, yang terkenal untuk melukis banyak adegan pantai warna-warni). Tidak ada yang membuat aku tersenyum selebar itu. Situasi pada hari tahun baru itu di Pantai Kukup tidak berbeda, karena rupanya semua warga Yogya mau ke pantai itu! Setelah kami makan nasi goreng dengan lahap di warung istri Daryl, Nick menemukan sopir yang punya bis yang cukup tua dan bobrok. Tetapi, kami satu-satunya kendaraan yang mau ke utara, ke dalam mulut sungai hitam yang terdiri dari ribuan motor, mobil, bis dan truk. Malam sebelumnya, perjalanan itu tidak makan banyak waktu, hanya dua jam, tapi hari ini, perjalanan sama diperpanjang hingga enam jam.

Desmond & Daryl

Desmond & Daryl

Karena musim hujan, jalannya memang seperti rawa, dan lumpurnya bau dengan lembab. Bis kami tertancap dalam lumpur setiap beberapa meter, tetapi di antara ribuan motor ada banyak orang yang bersemangat membantu. Baik menggali kami ke luar, maupun mengarahkan lalu lalu lintas, semua sementara tersenyum ke arahku, bule yang berseri. Dalam momen itu aku memutuskan bahwa aku pasti akan tinggal di Indonesia suatu hari. Dan juga ketika aku dalam kemacetan-tujuh jam dari bandara Jakarta ke Bandung naik shuttle-aku memutuskan bahwa aku ingin melakukan tugas AVID lain, dan tinggal di Indonesia setahun lagi.

IMG_1222 IMG_1218 (2)

Setelah seminggu bersama Mamaku di Bandung, aku bilang selamat pulang kepadanya di Soekarno-Hatta, pada Sabtu pagi yang berwarna abu-abu dan gerimis. Lalu aku naik shuttle, dan duduk di belakang. Tiga penumpang berikutnya adalah orang kerdil yang memakai rompi dan kufi. Mereka memberitahuku bahwa mereka baru mendarat dari Sumatera, dan akan pergi ke Bandung untuk acara komedi. Trio yang terus tertawa itu langsung menawarkanku kripik balado, dan bersikeras aku bergabung dengan mereka untuk lihat komedian favoritnya. Dua penumpang lagi naik di depan, kemudian karena aku sendirian di belakang, sopirnya bertanya dengan sopan apakah aku keberatan kalau dia memasukkan kargo di belakang di sebelah aku. Kegembiraanku, karena sendirian di belakang, menguap. Aku membayangkan sudut tajam dan tidak ada ruang siku. “Tidak apa apa Pak, silakan silakan.” Kargo apa kargo itu? Bantal. Bantal dibungkus plastik, sekitar sepuluh, menggembung seperti diisi pada tadi pagi.

Empat jam kemudian, kami belum ke luar Bekasi. Aku menerima teks dari Mamaku: “Baru mendarat di Perth. Semua cintaku, Mama Bear xox.” Dia menempuh jarak 3,000 km dalam waktu yang sama untuk kami mencapai KM 19, di mana kami makan siang, meskipun hanya jam 11. Meskipun protesku bahwa aku belum lapar, satu orang kerdil memberiku sepiring gorengan. “Sedikit snek saja!” Ketika kami masuk macet lagi, soundtrack berubah dari dangdut ke Iwan Fals, dan ada Iwan Fals sampai Bandung-ini pengetahuan penting bagiku. Aku berbagi kursi belakang bersama kargo yang senyamannya, hujan deras terus, dan lagu-lagu protes Iwan Fals menyalakan arus emosi dan kenangan yang bergelombang melalui dadaku dan ke sudut-sudut mataku. Macet itu terburuk, tergila, tetapi aku masih senang. Aku menikmati seluruh pengalaman itu. Iya, aku akan tinggal setahun lagi.

Hari ini adalah dua tahun sejak aku datang ke Indonesia. Indonesia akan selalu menjadi tanah air keduaku. Kadang-kadang, menjelaskan kepada teman-teman Australiaku, kenapa aku merasa emosi kuat ini, dan koneksi kuat dengan Indonesia, sangat sulit. Satu sahabatku panggil itu “burning passion“. Tetapi, mungkin jawaban ada dalam kesimpulan dalam aplikasi untuk tugas AVID yang pertamaku, yang disampaikan pada Agustus 2013:

“Saya tinggal di Yogya selama dua minggu pada Desember tahun lalu. Dunia itu adalah dunia yang sangat berbeda dari dunia saya, dan saya berjanji diri sendiri bahwa suatu hari saya akan belajar lebih banyak tentangnya. Tidak melalui perjalanan, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai peserta, melalui living it.”

Di sini aku selalu dalam keadaan penemuan, setiap hari aku menemukan sesuatu yang baru. Kalau aku mengunjungi pulau Indonesia baru – karena keragaman nusantara – aku merasa seperti aku mengunjungi negara baru. Di sini aku selalu belajar, dan sekarang aku bisa berbahasa Indonesia (meskipun masih lumayan), kesempatan untuk belajar adalah eksponensial.

Selama aku belajar tentang Indonesia, burning passion aku untuk negara ini tidak akan berhenti.

 

10321174_10153637116486908_8114017900504494537_o

Wayang bule! Foto ini diambil Paul Daley.

Terima kasih banyak Mbak Ayu Meutia atas mengedit artikel ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: